Tuyang Maulud Hiasi Semarak Maulid Nabi 1448 H Di Desa Lemo

By Redaksi 25 Agu 2026, 19:18:37 WIB Peristiwa
Tuyang Maulud Hiasi Semarak Maulid Nabi 1448 H Di Desa Lemo

Baritonews.co - Muara Teweh – Semarak perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW terasa di berbagai desa sepanjang wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, Kabupaten Barito Utara. Bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, Masjid-masjid dipenuhi warga yang datang untuk bershalawat dan mengenang keteladanan Rasulullah SAW.


Tradisi yang berlangsung turun-temurun itu tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat di desa-desa sepanjang DAS Barito.

Baca Lainnya :




Sejak pagi, suasana di berbagai desa mulai semarak. Lantunan Sholawat dan syair-syair Maulid menggema dari Masjid. Tokoh agama bersama masyarakat melaksanakan pembacaan rawi, Barzanji hingga Maulid Diba. Juga   tradisi tuyang maulud untuk anak-anak balita juga masih dipertahankan.


Semarak Maulid semakin terasa menjelang siang. Warga berbondong-bondong membawa kue, makanan dan berbagai hidangan ke masjid. Makanan tersebut kemudian dinikmati bersama dalam suasana penuh kekeluargaan.


Salah satu perayaan berlangsung di Masjid Nurul Janah, Desa Lemo II, Kecamatan Teweh Tengah, Selasa (25/08/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Barito Utara, Patih Herman.


Patih Herman mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dalam merayakan Maulid Nabi. Ia menyebut tradisi tersebut menjadi salah satu kekayaan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Barito yang patut dipertahankan.




“Tradisi seperti ini merupakan warisan para tetua kita yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Di dalamnya bukan hanya ada nilai keagamaan, tetapi juga ada kebersamaan, gotong royong dan silaturahmi antarwarga,” ujar Patih Herman.


 Perayaan  Maulid Nabi dirayakan dengan begitu meriah hampir di setiap desa di wilayah DAS Barito ini menunjukkan kecintaan masyarakat kepada Rasulullah dan kuatnya kebersamaan yang sudah diwariskan sejak dahulu.


Menurutnya, kemeriahan Maulid bukan semata-mata terlihat dari banyaknya kegiatan atau hidangan yang disiapkan masyarakat, tetapi dari semangat warga berkumpul, bershalawat, bersilaturahmi dan berbagi dengan sesama.


“Yang paling indah dari Maulid ini adalah kebersamaannya. Warga datang membawa makanan, berkumpul di Masjid, bershalawat dan saling berbagi. Nilai seperti inilah yang harus terus kita jaga,” katanya.


Patih Herman juga menilai tradisi keagamaan yang hidup di tengah masyarakat merupakan kekuatan sosial yang perlu dirawat bersama.


 Menurutnya, semangat kebersamaan yang terlihat dalam perayaan Maulid menjadi modal penting dalam menjaga kerukunan masyarakat.


Dia berharap tradisi Maulid Nabi yang telah berlangsung dari generasi ke generasi tidak tergerus perkembangan zaman. Ia mendorong para orang tua dan tokoh masyarakat untuk terus mengenalkan tradisi tersebut kepada generasi muda.


Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Lemo II pun berlangsung penuh khidmat dan kebersamaan, sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat.


“Kalau tradisi keagamaan, silaturahmi dan kebersamaan terus kita rawat, insyaallah persaudaraan masyarakat juga semakin kuat. Inilah nilai yang harus kita wariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.

(Dd)