Bisikan Angin di Balik Singgasana Ketika Menteri Kerajaan Diduga Kena Mantra Halus

By Redaksi 29 Mar 2026, 20:59:10 WIB Opini
Bisikan Angin di Balik Singgasana Ketika Menteri Kerajaan Diduga Kena Mantra Halus

Kerajaan Angin Sepoi - Sepoi kian ramai oleh kabar yang berhembus dari dalam istana. Seorang Menteri utama yang dulunya dikenal bijaksana, kini justru tampak berubah, seolah ada “BISIKAN HALUS” yang setia menempel di telinganya ke mana pun ia melangkah.
   
Dari sosok yang penuh pertimbangan, kini sang menteri sering mengambil keputusan yang membuat para punggawa mengernyitkan dahi. Bahkan, tak sedikit yang mulai berkelakar,
   
“Jangan-jangan beliau bukan lagi mendengar rakyat, tapi mendengar angin lewat.”
   
Konon, bisikan itu datang entah dari mana. Ada yang menduga dari para punggawa yang terlalu rajin berbisik, ada pula yang menyebut dari “lingkaran tak kasat mata” yang gemar meniupkan saran tanpa tanggung jawab.
   
Kalau benar itu bisikan dari punggawa, maka sungguh ceroboh beliau mendengarnya tanpa menyaring,” ujar seorang penasihat tua sambil diselingi batuk kecil.
   
“Seorang menteri seharusnya  punya telinga dan juga punya saringan.” ucapnya lirih sambil mengepulkan asap tembakaunya.
   
Di tengah suasana yang mulai hangat, sejumlah tokoh masyarakat pun menyampaikan teguran dengan cara halus namun mengena.
   
Situasi ini pun menjadi perhatian serius, sebab bukan hanya menyangkut nama baik pribadi, tetapi juga pamor di hadapan Paduka Raja. Dalam tradisi kerajaan, seorang menteri bukan sekadar penyampai titah, melainkan cermin kebijaksanaan istana.
   
Namun yang menarik, di balik riuhnya cerita ini, ternyata Paduka Raja tidaklah tinggal diam. Bersama Adipati Pendamping  dan Mahapatih Kerajaan ( sang
panglima sekaligus pengatur roda pemerintahan) juga telah mengetahui gejolak ini.
   
Informasi yang beredar di kalangan istana menyebutkan bahwa laporan dari rakyat sudah masuk bertumpuk, bukan lagi setumpuk kertas, tapi hampir setinggi tumpukan padi saat panen raya.
   
“Paduka hanya tersenyum tipis,” bisik seorang abdi istana. “Bukan tidak tahu,  tapi mungkin sedang menunggu waktu yang tepat.”
   
Waktu yang tepat untuk apa? Nah, di sinilah para punggawa mulai saling pandang sambil menelan ludah.
   
Beberapa bahkan berseloroh dengan nada setengah serius, setengah jenaka,
“Jangan-jangan sedang dipilih kayu terbaik untuk tiang gantungan di alun-alun kerajaan.”
   
Meski terdengar berlebihan, namun pesan yang tersirat cukup jelas: jabatan tinggi bukanlah tameng untuk bertindak semena-mena.
   
Di sisi lain, suara rakyat pun mulai terdengar lebih lantang, meski tetap dibalut kesopanan khas negeri ini.
   
“Rakyat ini bekerja dari pagi sampai petang hanya untuk sepiring nasi,” ujar seorang warga yang sakit sakitan dengan nada lirih.
   
“Jangan sampai kebijakan yang lahir dari bisikan-bisikan itu justru menendang piring kami.”
Ia menambahkan, bahwa kekuasaan sejatinya adalah amanah.
   
“Kalau piring nasi rakyat digoyang, jangan salahkan kalau nanti kursi kekuasaan ikut bergoyang.”
   
Kini, semua mata tertuju pada istana. Apakah sang menteri akan kembali sadar dari “hipnotis angin”? Ataukah benar akan ada babak baru yang lebih… menegangkan di alun-alun kerajaan?
   
Yang jelas, angin masih berhembus.
Dan kali ini  tampaknya PADUKA RAJA JUGA SUDAH MULAI MENDENGARNYA.